Pesantren ku, tahun 2011





Bisa dikatakan, kisahku masih jauh dari kata apik. Tapi aku akan tetap menceritakannya


Juli, 2011
Aku pindah ke Cirebon. Bukan keluargaku yang pindah. Hanya aku. Bukan aku di telantarkan. Tapi karena aku di titipkan di sebuah pondok. Supaya aku tidak nakal katanya. Padahal selama ini, aku tidak pernah keluyuran malam-malam, atau pergi tanpa pamit. Apapun alasannya, aku harus mau tinggal di pondok ini. Yasudah, aku tidak menolak.
Aku dikenal sebagai anak yang pendiam. Tak bicara saat tidak ditanya. Kalaupun ada yang bertanya aku menjawab sekena nya. Aku sedikit kesulitan untuk beradaptasi. Percaya deh, jangan sekali-kali sungkan sama orang lain. Itu bakal nyusahin diri sendiri. Seperti ku yang terlampau diam, untuk minta tolong saja aku takut setegah mati. Aku merasa tak enak. Terlalu malu.
  Biar kuceritakan sedikit. Bagaimana rasanya mondok. Bagaimana rasa nya menjadi santri baru.
Sulit. Beneran deh. Tiba-tiba harus jauh dari rumah. Tidak lagi ada masakan ibu, tidak lagi ada kasur empuk nan lega, jangan harap ada kipas angin yang bikin adem. Kalau cari kipas manual sih banyak. Harus siap pegel tangan saja. Bukan hanya itu, kalian harus tahu, santri itu tidak lepas dari kata ‘mengantri’. Semua serba berbagi. Individualisme disini amat dilarang. Semua harus bisa berbagi.
Biar ku rinci satu persatu.

          Tidur seperti ikan pindang. Berjejer rapat. Bisa kalian bayangkan jika teman sebelah kalian kutuan? Jangan ditanya. Bisa merembet ke satu kamar. Apalagi jika tidurnya ngejabrah kata orang betawi. tak bisa diam. Habislah kau. Tak bisa tidur dengan khusyuk. Atau tiba-tiba ada yang mengorok atau mengigau. Amat berisik. Kalian dijamin tak akan bisa terpejam. Seperti itulah malam yang kuhabiskan di pondok. Bertahun-tahun tanpa jemu. Dan kau akan tahu, kau telah berhasil melatih kesabaran.

          Wajib sudah bangun bahkan sebelum ayampun terbangun. Sebelum azan bedug menggema. Atau kau tak akan bisa mandi. Tak dapat antrian mandi. Karena jika sudah azan shubuh. Maka kita pun sudah harus berebut mengantri mengaji Al-Qur’an satu persatu oleh bu Nyai. Merepotkan bukan? Setelah mengaji tak akan sempat untuk mandi. Karena harus berangkat sekolah. Sungguh ini banyak melatih kedisplinan dalam mengatur waktu. Apalagi jika telat bangun, tak dapat antrian mandi, terlambat berjama’ah shubuh. Antrian mengaji paling akhir. Dan terburu-buru pergi ke sekolah. Wah, lengkap sudah. Siap-siap dengan hukuman sebab kau terlambat berjama’ah.
          Pulang sekolah, jangan terlalu santai. Atau kau tidak akan mendapat jatah lauk. Segera mengambil piring, mengantri untuk mengambil nasi dan lauk pauk. Untunglah di pondokku, kita bebas memilih porsi nasi, terserah mau satu centong aja atau bahkan satu piring penuhpun tidak akan dilarang. Asalkan kau habiskan. Nambah nasi boleh, asal kau makan semuanya. Mau ku beri tahu lauknya apa? Adalah tahu tempe, kerupuk, sambal, sayur. Tak ada daging. Jika mau, ya beli sendiri. Jika ada, paling hanyalah daging terong sambal atau nangka sayur. Makan telur hanya sebulan dua kali. Makan ayam jangan ditanya. Amat jarang. Bisa di hitung pakai jari. Disinilah, kau akan belajar hidup sederhana, hidup prihatin.

          Jadwal mengaji, tadarus, nadzoman (mebaca bait-bait beberapa kitab) telah menunggu. Telah ditentukan jamnya. Dan harus tepat waktu untuk berkumpul. Jika ketiduran, atau tidak ikut mengaji, hati-hati, setiap saat kita akan di awasi oleh pengurus bagian keamanan. Jangan sampai berurusan dengan mereka. Tidak akan menyenangkan. Hukuman yang lazimnya disebut ta’ziran akan kau dapat. Mau ku beri tahu apa hukumannya? Simpel saja, kau akan disuruh membaca surah Al-qur’an semisal yaasin sebanyak 3-7 kali. Atau mengkhatamkannya sampai beberapa juz. Mau tahu yang lebih mengerikan? Mengaji di aula pondok, dimana santri putra-putri akan menontonnya. memalukan sekali bukan? Maka jangan sampai berurusan dengan pengurus keamanan.

          Belum lagi jadwal membersihkan pondok, jadwal cuci piring, jadwal membereskan kasur, jadwal membersihkan sampah, dan jadwal-jadwal kebersihan lainnya. Wajib rajin. Jika tidak, ya hanya hukuman yang akan kau dapat nantinya. Tak melaksanakan piket cuci piring, kau harus menggantinya dengan mencuci piring seminggu full. Atau membersihkan bak-bak mandi tiap minggu. Tahu apa yang paling menyenangkan? Adalah jika kau mendapat bagian beres-beres di rumah Kyai. Ruah keluarga ndalem kami menyebutnya. Tahu apa bagian menyenangkannya? Jika kau bisa melihat idola para santri. Gus-gus atau mas-mas, begitulah kami menyebut anak pak Kyai. Idaman para santriwati. Rasanya akan amat beruntung dapat melihat dengan jelas. Entah di ruang tamu, atau di ruang tv, atau setidaknya kita bisa melihat pigura-pigura wajahnya yang mepesona, tentunya dengan peci hitam, ber-jas, dan memakai sarung. Menggantung di dinding-dinding rumah ndalem. Kesempatan langka. Mungkin tidak disemua pondok seperti itu, tapi dipondokku memang iya begitu.

          Dan satu lagi yang harus kau tahu, mau tak mau, suka tak suka, kau harus sanggup menghafal. Setor sesuai kesepakatan. Belajar memaknai dan membaca kitab kuning. Bagian inilah yang amat berat untukku. Amat memusingkan belajar bahasa arab. Bagi yang menyukainya mungkin tak masalah. Sedangkan aku, itu sungguh susah, sulit, aku bahkan menganga jika melihat santri yang dengan fasihnya membaca arab gundul, sebutan untuk tulisan arab yang tak ada harakatnya. Sangat menakjubkan menurutku. Bukan hal mudah dan praktis untuk bisa membacanya. Butuh ketelatenan dan tentu kemauan untuk memahai kaidah-kaidahnya.

          Hal-hal berat lainya adalah, kau tak boleh membawa gadget, hape android atau semacamnya. Jika tetap membawa siap-siaplah gadget itu akan hilang, entah di jual atau di musnahkan. Karena itu memang dilarang keras. Bukan karena melarang teknologi, itu semata-mata karena gadget lah sumber dari segala kelalaian, kemalasan, dan mudharat-mudharat lainnya, seperti sms atau menelpon santri putra mungkin. Hihi. Mau tahu bagaimana jika santri saling suka? Taksir menaksir? Jawabannya adalah bertukar surat. Ya, hal yang lumrah ditemukan adalah saling berbalas surat. Itu terdegar amat kuno. Tapi begitulah, tak ada gadget maka ya harus manual. Apakah aku pernah seperti itu? Tentu pernah. Hehe. Mau kuberitahu sebuah rahasia? Aku berbalas surat bukan dengan santri. Lah, dengan siapa? Ya dengan salah satu anaknya pak Kyai. Kok bisa? ~rahasiaa :) di lain waktu akan ku ceritakan.

          Ya begitulah, menjalankan hidup menjadi santri amat menyebalkan bukan? Tapi percaya deh, meskipun amat berat, meskipun amat susah, meskipun saat datang ke pondok untuk pertamakalinya, entah sudah berapa ember air mata yang dikeluarkan, entah sudah berapa kali kata-kata keluhan keluar, yakin bahwa amat banyak pelajaran dibalik semua itu. Kau akan dapat berkali-kali lipat dari semua keluhan dan susahmu. Semua akan terbayarkan. Bukankah begitu? Tanpa sadar, kau telah belajar amat lama apa itu sabar, apa itu saling berbagi, dan apa itu yang disebut ikhlas. Kau akan paham banyak hal. Bahwa pondok memberimu semua yang kau butuhkan. Membetuk karakter dan akhlak yang baik. Tahu mana baik dan mana buruk, tahu bagaimana berbakti pada orang tua, pada guru, pada teman. Tahu bagaiamana susahnya hidup, paham bagaimana mensyukuri apa yang kita punya, mengerti bagaimana harus hidup mandiri dan bertanggung jawab. Itulah yang disebut paham akan banyak hal. Kau hanya butuh melihatnya dari sisi positif.  

Insya Allah, berkah hidup. pun sampai mati.

Mau tahu rahasia agar hidup lebih berkah? Berbagi apapun terhadap makhluk. Berbagi ilmu, berbagi rezeki, berbagi bahagia, berbagi apapun yang bermanfaat. Bukan hanya pada manusia, tapi tumbuhan dan hewan pun kita harus peduli. Harus cinta.

Satu hal yang aku alami.

Aku menangis saat pertamakali datang ke pondok. menjalani hari-hari berat itu.
     Sabar. Melawan hari-hari sulit.
Aku melakukannya tak jemu, mengingat orang tuaku yang bersusah payah memondokkan. Dengan biaya yag tentu tak murah.
Hari berganti hari, hitungan jam berjalan cepat, terus seperti itu, bertahun-tahun.
     Mencoba Ikhlas. Menghadapi ta’ziran dan permasalahan .
Sampai akhirnya, aku bersyukur akan banyak hal.
Aku sudah bertahan selama ini. Aku sudah sampai sejauh ini. Maka aku amat bersyukur

Sampai masanya tiba. Hukum alam yang berkata lirih bahwa pertemuan adalah satu paket dengan perpisahan.

Maka aku seketika menangis.
Aku menangis meninggalkan pondok ini, aku menangis melihat aku dan kawan-kawan akan berpisah, ke kampung halaman masing-masing, melanjutkan perjuangan masing-masing.

Aku menangis.

Mengingat amat banyak kenangan indah dan pahit disini.
Amat berat. Seperti saat aku pun amat berat meninggalkan rumah dan pergi kepondok.
Aku amat berat meninggalkan pondok, yang memberi pemahaman amat banyak.

Lain waktu, aku akan menceritakan, tiap potongan kejadian lebih rinci. Kejadian-kejadian lucu, konyol, sedih, haru, akan kucieritakan nanti. :)








Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer