Panorama pesantren
Aku kembali terpaku
pada panorama yang tak asing lagi. Sebuah panorama yang selama ini begitu akrab
dengan kehidupanku dipondok pesantren. Didepanku, berdiri kokoh sebuah
masjid. Diberanda masjid terlihat
beberapa santri sedang melantunkan ayat suci. Juga beberapa yang tengah
mendirikan sholat. Aku baru saja pulang sekolah. Mentari sudah berada di atas
kepala. Aku tertegun sejenak. Berhenti di sebuah pedagan es dihalaman masjid. Tiga
tahun kuhabiskan waktu dengan mondok dipesantren. Waktu amat cepat berlalu,
seperti desingan peluru. Entah, ilmu apa saja yang telah kudapat selama tiga
tahun terakhir ini. Sekarang aku telah berada dibangku kelas tiga tsanawiyah,
lusa aku akan dihadapkan oleh UN, beserta soal-soalnya yang membuat otakku
harus bekerja lebih keras. Selain balajar, ikhtiar ku yang terakhir adalah do’a.
Aku dan teman-teman seangkatanku pukul tiga sore nanti akan berziarah kemakam
kiayi, yang jaraknya lumayan jauh dari pondokku. Untuk memanjatkan do’a kapada
allah, sekaligus mendo’akan para kiayi yang telah wafat. Tujuan ku yang utama
adalah agar dimudahkan segala urusanku saan UN nanti. Juga memohon di bukakan
fikiranku agar mudah menjawab soal-soal yang mungkin saja akan membuat ku
kesulitan. Siang semakin menyengat, akhirnya kuputuskan untuk pulang kepondok.
Bersambung..


Komentar
Posting Komentar