Reach Your Love




“Hana, heii!... berhentilah! Kumohon!”aku tergepoh mengejar sahabatku. Ia enggan bicara. Terus berlari tanpa mengenyahkan aku yang mncoba mengejarnya. Tak berniat sedikitpun untuk menghentikan langkah, dan membiarkan ku mendekat. Akhirnya aku benar-benar putus asa. Terduduk di trotoar dengan nafas yang memburu. Peluhku basah oleh keringat. Rambut yang terkuncir kuda sedikit mengendur. Beberapa helai menjuntai disela-sela kuping. Aku menggeram kesal. Gagal untuk mengejarnya. Menjelaskan apa yang seharusnya dijelaskan. Ini adalah pertama kalinya dia marah terhadap ku. Aku sungguh sudah sangat menyayanginya. Lebih dari pacarku sekalipun. “oh!” aku mendesah putus asa. Kubuang sembarang cokelat yang kugenggam sebelumnya. Membuangnya keras kejalan. Sedetik kemudian, hancur terlindas mobil box. Aku menatapnya tanpa perasaan. Bahkan aku lebih senang melihat cokelat itu hancur!
Semua karena cokelat sialan itu!
***
1 Jam Sebelumnya

“Braakk!” hana melempar sebatang cokelat dihadapanku. Aku terkejut. Menatap hana dengan wajahnya yang terlihat geram.
“ada apa han?” ucapku hati-hati.
“tak usah memasang wajah polos!! Cokelat itu untukmu! Dari Alfreda!” hana berkata keras. Nadanya meninggi dengan penuh amarah. Aku mengerenyitkan dahi.
“Alfreda? Kau bercanda…?”
“apa aku terihat main-main?! Sekarang usdah jelas! Al menyukai mu! Bukan aku..!” hana semakin meletup emosinya
“tidak! Itu tidak mungkin.. aku tahu Al menyukai mu!” bantah ku tegas.
“ah, omong kosong!!” hana tertawa sinis.
“han, percayalah! kau bahkan tahu, aku hanya menyukai kay! Aku tak mungkin…”
“sudah! Tak perlu ada penjelasan! Aku muak! Sungguh aku sudah tak tahan menjadi sahabatmu!” air mata berderai dipipi hana. Ia semakin keras meneriaki ku, dengan sentakan kaki, ia berlalu. Aku hendak mengejar nya. Berusaha menjelaskan sebisa diriku. Namun hana sudah terlampau jauh didepanku. Aku terus meneriakinya. Dan ia terus berlari seribu langkah. Siluetnya kian megecil. Rambutnya yang tergerai terguncang keras.
***
Hana Maristella Manago.

Aku akhirnya berhenti. Olive sudah tidak mengejarku. Mataku mulai membengkak. Dan air mata terus merembas. Nafasku tersenggal tak karuan. Aku terduduk dibangku taman. Membenamkan wajah. Rambutku kusut dan berantakan. Tergerai menutupi wajahku yang basah oleh keringat dan air mata. Aku sungguh terasa remuk. Ingin meledak rasanya. Emosiku terus meluap. Aku, untuk pertama kali marah pada sahabatku. Entah apa salahnya. Tapi olive menjadi sebab! Menyebab hatiku yang hancur seakan ditempa godam besi. Aku tak pernah merasa sesakit ini. Tapi setelah aku tahu Al-cowok yang kusuka diam-diam, bahkan jatuh hati dengan olive! Kenapa lagi-lagi harus olive?! Sejak dulu olive selalu menjadi incaran. Dan aku? Bahkan aku merasa seberti sampah tak berarti. Aku sungguh iri padanya! Tak heran jika Al jatuh cinta pada olive. Tapi jika untuk jatuh hati padaku? Sangat-sangat mustahil.
***
Olive Claudine Kathya

“sungguh sial! Alfreda!” aku menggerutu kesal. Geram akan sikap Al yang pengecut. Seharusnya dia bilang secara terang  bahwa dia menyukai hana, Bukan aku! Dan sekarang semua berantakan. Persahabatanku retak. Ugh! Kesalah pahaman kian mencuat. Aku tahu perasaan hana. Sejak dulu pun aku tak pernah menggubris puluhan surat yang sampai ditanganku. Aku membuang nya tanpa harus dibaca. Karena aku paham akan perasaannya. Aku sama sekali tak menginginkan diriku populer. Aku justru ingin seperti hana. Tak ada satupun yang mengusik hidupku.
            Akhirnya aku putuskan kembali kesekolah. Aku memungut bola basket dilapangan. Dengan keras kupantul bola itu kearah ring. Namun bola itu tak mencelos kedalam ring. Melainkan kembali terpantul. Dan mengenai punggung seseorang.
“a…awas!!” peringatku. Seseorang itu menoleh.
“ka…kay?!” pekik ku tak tertahan.
Ia kembali melempar bola itu kearahku.
“kendalikan emosimu kathya!” ujarnya dengan mengeraskan suara. Seketika emosiku meluap. Berubah menjadi uap cinta.
“sudak kubilang jangan memanggilku dengan nama belakang!” protesku sebal.
“apa bedanya kathya denagn olive? Keduanya sama-sama nama mu” ujarnya santai. Sambil melangkah kearahku. aku merasa degup jantungku yang kian menderu. Dia semakin mendekat.
“apa yang terjadi denganmu? Boleh aku.. tahu?” kay mengangkat alis menatapku lurus.

Akhirnya aku menceritakan krnonologi sejam lalu. Tanpa ada sedikitpun yang terlewat. Kecuali saat aku bilang hanya kay yang aku suka.
“seharusnya kau mendesak Al agar berani mengatakan yang sebenarnya pada hana” ia member saran yang cukup bagus.
“tapi.. bagaimana kau bisa yakin kalau Al menyukai hana?” kay menatap menasaran.
“mudah saja, aku selalu memergoki Al yang memperhatikan hana begitu lama. Tapi hana bahkan tak menyadarinya” keluhku kecewa.
“jangan sampai masalah ini berlarut-larut, aku sedih bila melihatmu kesusahan.”
***
Pagi-pagi aku berangkat sekolah. Bergegas menemui Alfreda dikelasnya. Aku melihat wajahnya yang gelisah saat aku berada dihadapannya. Mukanya menegang dan terlihat sirat penyesalan.
“olive, maafkan aku” ucapnya lirih.
“aku telah membuat persahabatan mu retak.” Lanjutnya
“tak apa Al, aku mengerti” ujarku sambil menarik bangku asal.
“sekarang ceritakanlah, apa sesungguhnya yang terjadi Al? tentang tragedi cokelat itu?” tanyaku dengan nada tegas.
“sebenarnya ku ingin memberi cokelat itu pada hana. Tapi saat aku telah berada dihadapannya, seakan semua keberanianku meleleh. Aku menjadi dudup dan takut akan penolakan.padahal aku ingin sekali berkata ‘ini untuk mu hana’ tapi lidah ku berkata dusta padanya” ia mengakhiri ceritanya. Aku mengangguk paham.
“jadi, apa yang kau lakukan setelah kesalah pahaman terjadi?” tanyaku lebih seperti orang yang mengintrogasi tersangka.
Alfreda diam. Ia terlihat  bingung.
“baiklah Al, aku serahkan semua padamu. Nasib persahabatanku, nasib cintaku, semua ada ditangan mu”
Aku meninggalkan Al yang masih diam mencerna kalimatku.
***
Hana Maristella Manago

Sirna semua harap dan anganku, seperti air yang menguap. Aku sungguh menyedihkan. Cintaku hilang. Persahabatanku tenggelam. Aku kesepian. Seharusnya aku tidak bersikap begitu kasar pada olive. Apa dia marah pada ku? Seharusnya aku tak meneriakinya dan membiarkannya berlari sambil memohon padaku. Cintaku pun demikian. Seharusnya aku tak terlalu membangun mimpi dan khayal.
Kini semua berbicara tentang hati.
Tak ada yang harus disalahkan. Olive, maupun Al. hati akan bertindak semaunya tanpa perduli akan logika. Tapi, apa lagi-agi aku harus mengalah dan menbiarkan orang yang kusuka tetap jatuh hati pada olive? Kalau begitu, kapan cinta sejatiku akan menjemput?
            Tidak Tahu.
Mungkin beberapa jam lagi. Atau beberapa bulan lagi. Bahkan beberapa tahun lagi. tapi yang jelas.
            Aku tidak tahu.

            Sebuah mangkuk besar mendarat didepanku. Terisi penuh oleh ice cream yang begitu manis. Warna pink dipadu dengan putih dan hijau, ditaburi chochochips berwarna pelangi, dengan topping sebuah strawberry dan sepotong  leci diatasnya. Membuat ku ingin segera melahapnya. Namun sebelum aku melakukan hal bodoh itu. Aku mendongak. Mencari wajah siapa yang membawa ice cream semanis ini.  
            Dan tiba-tiba. Waktu seakan berhenti.
Dan aku luluh. Seperti lelehan ice cream.
“Al?” ucapku terbata
Ia melempar senyum. Dan lagi-lagi hatiku lumer.
            “ini untuk mu hana, hanya untuk mu! Bukan untuk olive atau siapapun!” Alfreda berkata begitu tulus. Kemudian dia menjelaskan apa yang seharusnya dijelaskan.
Aku meresa hati yang sebelumnya terluka, seakan tersiram telaga cinta. Senyum bahagia tak bisa ku tahan.
“sungguh?” ucapku meminta kepastian.
“tentu saja hana! Ini semua karena aku mencintaimu!” ucapnya pelan. Namun terdengar seperti nyanyian bidadari ditelinga ku.
“kau pasti sangat membenci cokelat setelah kejadian itu. Jadi aku berikan ice cream saja untuk melumerkan hatimu” jelasnya enteng.
Aku tertawa renyah, pipiku pelan menghangat.
Cinta sejatiku, bahkan datang dalam hitungan menit.
“jadi, apa kau mau menerimaku?” ucapnya ragu.
“tentu saja. Aku tak punya alasan untuk menolak mu”
***
Olive Claudine Kathya

Aku melihat wajah mereka dikejauhan. Sungguh pasangan yang tak terpisahkan. Aku tersenyum senang. Meihat hana sebahagia itu.
            Seseorang tak ku sangka telah lama berdiri dibelakangku. Ia bersedekap. Ikut memandang kearah Alfreda dan hana.
“aku iri pada mereka, apa menurutmu.. kita pacaran saja?” dengan ringan kay berujar.
“kay?” aku tersentak kaget.
“bagaimana?” ia mengangkat alis.
“k..au sedang bercanda kan?” tanyaku tergagap.
“tentu saja tidak. Sangan sekali-kali kau beranu menolak ku ya!” ucapnya tandas
“kau berani mengancam ku?” responku tak mau kalah.
“jadi?” kai menautkan alis.
“baik lah jika kau memaksa” akhirnya aku mengalah.
Membiarkan bunga cinta tumbuh begitu cepat.
***
Hana Maristella Manago

Dua orang menghampiri kami.
“olive?” aku hampir tercekat. Dan terlihat kay disisinya.
Olive tersenyum senang. Sama sekali tidak menandakan bahwa ia marah padaku.
            “selamat atas kebahagiaan mu hana” olive menghambur kearahku.
“maaf atas perbuatan ku olive” bisikku lirih.
            “tak ada yang harus dimaafkan”
“heii! Sudah cukup berpelukannya. Ice cream ini sudah menunggu untuk dilahap. Protes Alfreda.
            Kami semua tertawa. Melahap ice cream yang sebagian telah meleleh. Al berkali-kali menyuapiku.
            “Al, jangan menyuapiku terus. Memangnya aku anak kecil” protesku sebal.
Ia tertawa. “ kau ini!” tangannya mengacak rambut ku.
***
Olive Claudine Kathya

                Kami tenggelam dalam bahagia. Ice cream dimangkuk besar telah hampir tak bersisa. Aku menatap kay penuh arti. Dan tangan kay meraih tissue, mengelap pada bibirku yang belepotan.
                “kau seperti anak kecil” ocehnya.
Aku menatap nya jengkel. Al dan hana tertawa dengan bersamaan.

Komentar

Postingan Populer