Pahit manis kehidupan pesantren :)




Adzan  shubuh telah menggema. Aku masih terlelap. Menikmati mimpi indahku. Tak sampai beberapa menit. Seseorang datang membangunkan , dan menyuruh ku untuk segera sholat. Aku mendengus sebal.
            “iya, lima menit lagi!” aku merajuk.
“fatma! Ayo cepat bangun ! kita berjama’ah!” kembali fanny menggoyangkan tubuhku.
            “ish!!” aku kembali mendengus. Berharap fanny cepat menghilang.
fanny tak jua menyerah, ia tetap berusaha membangunkanku.
            “emh..!” aku menggerutu. Memberi peringatan bahwa aku tak ingin diganggu. Semakin meringkuk dan menutup wajahku dengan bantal.

Dan akhirnya fanny menyerah. Ia beringsut meninggalkan ku.
***

“ada berapa banyak peraturan sih disini?!” ucapku kesal pada fanny yang sibuk menghafal.
“sudahlah! Kau selalu protes dengan peraturan. Lebih baik kau hafalkan saja kitab safinatunnajjah, nanti malam kan harus setor” respon fanny yang masih sibuk dengan kitabnya.
“bagaimana aku tidak protes?! Lagi-lagi aku dihukum, hanya karena hal-hal yang sepele!”
            “kalau tidak mau dihukum, ya jangan coba-coba melanggarnya, fatma! Peraturan itu untuk membuatmu  disiplin” nasehat fanny sambil menutup kitabnya.
“siapa yang melanggar? Aku shubuh tetap sholat kok. Hanya berbeda berjama’ah atau tidaknya!” protesku.
            “tapi ada aturannya fatma, sholat shubuh, maghrib, dan isya  harus berjama’aah. Ya kalau tidak berjama’ah, kau dihukum”
            “uuhh..” keluhku meraih kitab dari genggaman fanny. Menatap deretan kata berbahasa arab dengan tatapan kosong.
            “lalu, kenapa harus cuci piring sih hukumannya? Aku benci jika harus mencuci piring. Apa tak ada yang lain?” kembali aku menutup kitab dan menatap fanny.
            “itu sudah konsekuensi”
***
            Akhirnya aku menjalankan hukuman itu, mencuci piring. Aku kesal. Setengah hati aku mencuci satu persatu tumpukan piring. Melelahkan. Menjengkelkan. Mencuci piring dengan amarah yang tertahan. Dan.. tanpa kusadari satu piring terlepas dari genggamanku. Pecah karena aku yang tak berhati-hati. Menggores tepat dipergelangan tanganku. Darah segar mencuat. Aku menggenggam tanganku panik. Pecahan piring menggores sedikit urat nadiku. Air mata telah merembas. Muka ku pucat. Darah tanpa henti mengalir hingga mengotori lantai. Perlahan mataku mulai menggelap. Aku mulai merasa pusing dan lemas. Fanny yang melihatku, dengan cepat mengambil sehelai kain dan menghentikan aliran darah.
            “sakiit..” ucapku lirih.
Ia memapahku ku kedalam kamar. Beberapa santriwati lain menatap penasaran kearahku.
            “minum dulu ya” fanny menyodorkan gelas ke mulutku.
“kania, tolong bawakan kotak P3K” perintah fanny pada salah seorang santriwati yang  ikut mengamatiku.
            “baiklah” responnya singkat.
Beberapa menit, kania membawa kotak P3K. kemudian fanny mengambil alkohol, dan membersihkan lukaku.
            “aawww…!  Sakiit..”  ucapku dengan airmata yang menetes.
“sshhhhh…” aku  merintih perih.
“pelan-pelan” pintaku.
“iya..iya” jawabnya singkat.
            “harusnya kau lebih berhati-hati” celetuk salah seorang temanku yang lain. Aku tak menanggapi. Kulihat fanny mulai membalut kuka ku dengan kassa. Aku menggigit bibir. Sangat perih.
            “sudah, jangan nangis lagi. Sidah diperban lukanya” fanny berujar. Aku melihat pergelangan tanganku yang sudah terbalut rapi.
            “thanks ya fan” ucapku pelan.
Fanny mengangguk sambil tersenyum. Dan dia merapikan kotak P3K.
***
            “Jangan kau ulangi lagi ya fatma” ia telah berada disisiku. Kami terduduk di jemuran terbuka. Hembusan angin malam menyentuh ku lembut. Aku mengadah menatap angkasa.
            Malam terang.
Langit bersih tak tersaput awan. Bintang tumpah, membentuk ribuan formasi. Aku mengangguk pelan. Menatap pergelangan tanganku yang masih terbalut perban.
            “kesabaran mu akan terus diuji,  jadi bersabarlah fatma”
“kau bukan hanya mengaji dan mencari ilmu saja dipesantren ini. Tapi disini, kau juga diajarkan pentingnya bersabar, ikhlas, dan bersyukur.”
            Aku mencerna perkataan fanny. Mataku perlahan mengarah pada bintang Sirius. Bintang terterang dilangit selatan.
            “aku akan mencobanya… sabar, iklhas, dan syukur” ucapku pelan.
Fanny tersenyum penuh arti. Ia merangkulku.
            “kau pasti bisa, fatma.. aku tahu itu” ujar nya pasti. Aku mengangguk.
“jadi, cobalah terima kehidupanmu disini, ikhlas dalam menjalani peraturan… meskipun aku tahu, itu sangat sulit”  fanny menatapku. Kami tersenyum bersamaan.
            “baiklah”
Kemudian kami kembali menatap tumpahan bintang yang berkelip.

~SELESAI~

Komentar

Postingan Populer