Cerpenku.



SWEET FLOWER

Bel masuk sekolah terdengar.
Kathya sedikit berlari kecil menuju gerbang yang hampir tertutup. Kemudian melangkah cepat kedalam kelas.
“pagi semua!” sapanya riang pada teman-temannya.
“hei kathya, ada banyak titipan surat buatmu” dita menghampiri kathya.
“oh ya? Apa ada yang mengirim cokelat?” ucapnya bergurau, tapi sedikit berharap.
“hmmm.. biar kuingat, sepertinya tak ada. Hanya ada surat dan beberapa bunga untuk mu!” timpal dita
“lebih baik kau bakar saja bunganya!”
“aku bercanda kathya, ini cokelatnya” dita menyerahkan sebatang cokelat. Dan kathya langsung melahapnya, tak memperdulikan siapa gerangan yang memberi cokelat itu.
Beberapa menit, kathya duduk di kursinya. Ia hendak mengambil sesuatu dilaci meja. Namun tangannya meraba sesuatu. Ia tahu benda itu. Seketika wajahnya pucat  dan keringat dingin bercucuran. Untuk memastikan, kathya meraih benda itu, benar dugaannya. Beberapa tangkai mawar terlihat. Perutnya mulai terasa mual. Ketika wangi bunga itu menusuk indera penciumannya. Kathya seakan baru saja memegang benda paling menjijikan didunia.
“kau kenapa kathya? Mukamu sangat pucat” dita menghampiri. Dan kemudian dia mengerti kondisi sahabatnya yang mengidap anthophobia, ketakutan berlebih terhadap bunga. Sesaat setelah dita melihat beberapa tangkai mawar.
“siapa yang melakukannya?” dita berujar.
Kathya menggeleng lemas.
“baiklah, kita ke-UKS” dita memapah temannya keruang UKS.

***
“gimana? Udah baikan?” Tanya dita.
Kathya tengah menenggak teh hangat.
“sial! Siapa sih yang jahil menaruh bunga itu?! Pasti Freda!” gerutu kathya tanpa henti.
“sepertinya, dia memang tak pernah berhenti menjahilimu” respon dita.
Seseorang membuka pintu UKS. Terlihat Freda yang berjalan santai.
 “untuk apa kau kemari?!” Tanya kathya ketus.
“aku mau minta maaf” jawabnya sambil tersenyum tanpa dosa. Ucapannya bahkan terdengar seperti orang bergurau.
“benar dugaanku” gumam kathya.
“lebih baik kau pergi saja. Ucapan maafmu takkan berlaku” tandas kathya sambil memalingkan wajah.
“benarkah? Apa kau akan menarik kata-katamu jika aku memberimu ini?” goda Freda sambil mengacungkan dua batang cokelat.
Mata kathya membulat. Oh, demi apapun dia tak tahan jika melihat cokelat. Rasanya ingin melahapnya saja. Namun dia menahan diri demi gengsinya.
“yakin tak mau?” godanya lagi.
Kathya diam. Terus menahan keinginannya.
“baiklah, kuberikan saja cokelat ini pada orang lain” pancing Freda. Ia mulai membalikkan badan hendak pergi.
"tunggu!” cegah kathya. Ia sedikit menyesali ucapannya.
“aku memaafkanmu. Tapi jangan sekali-kali kau menjahiliku lagi dengan bunga!”
“baiklah. Tapi aku tak bisa menjamin.” Ia memberi dua batang cokelat pada kathya.
“awas kalau kau berani menakutiku lagi!”
Freda tersenyum geli. “anak kecil bisa apa?” ejeknya.
“keterlaluan!”
“apa aku keterlaluan ya? Setidaknya aku sudah meminta maaf padamu.” Lanjutya lagi. Dan dia melangkah keluar UKS.
“cowok aneh!” dengus kathya  ketika pintu UKS kembali tertutup.
“apa sih maunya?” ujar kathya sambil melahap cokelat pemberian Freda.
“kau membencinya, tapi tetap memakan cokelat darinya. Sebenarnya siapa yang lebih aneh?” timpal dita.
“hehe” kathya menyengir konyol.
“kathya, ini surat-surat mu.” Dita mengeluarkan beberapa surat yang ditekuknya.
“setidaknya kau baca salah satu dari surat-surat itu” tukasnya.
“oke..oke” kathya menurut dang mengambil dengan asal dari beberapa surat itu.
“aku ingin ketoilet sebentar. Kau bisa duluan ke kelas jika aku agak lama” ujar dita.
“ya” kathya menjawab singkat. Dan mulai membaca surat digenggamannya.


HAPPY VALENTINE DAY, KATHYA!
Haaah, seharusnya aku tak perlu menulis surat ini untuk mu. Karena aku yakin, kau takkan pernah membacanya. Tapi tak apa, sedidaknya aku bisa sedikit berharap. Dan jika harapanku terkabul, setidaknya kau tak lagi melihatku hanya dari sisi matamu.
          Baiklah, aku tak ingin terlalu berbasa-basi.
Kathya, aku akan mengatakan hal yang paling mustahil didunia ini. Kau tahu apa itu? Aku menyukaimu.bahkan aku telah jatuh cinta padamu. Kau pasti sangat tak percaya bukan?
          Seandainya kau benar-benar membaca tulisan ini kathya.
                                                                                      FREDA.
            Kathya tercekat. Tiba-tiba saja hatinya berdesir aneh. Benarkah itu dari Freda? Kathya seakan menemukan diri Freda yang lain. Bagaimana bisa Freda yang jahil berbalik menyukaiku? Tanpa disadari,kathya tersenyum kecil. Akhirnya dia beranjak ke kelas. Menanyakannya langsung pada Freda.

***

“aku telah membaca suratmu” ucap kathya pada Freda yang duduk dibelakangnya.
“benarkah?” respon Freda terkejut. Lalu dia terkekeh.
“harapanku benar-benar terkabul rupanya”lanjut Freda riang.
“lalu apa jawabanmu?” Tanya nya tanpa ragu sedikitpun.
“kau pasti menerimaku. Ya kan?” lanjutnya dengan penuh percaya diri.
“yang benar saja!” bantah kathya.
Kemudian kathya membalikkan badan. Dia membuka buku dihadapannya.
“kau tak berterimakasih padaku?” ujar Freda lagi.
“untuk apa berterimakasih pada orang yang snagat keterlaluan?!” ucapnya tandas.
“tapi aku telah memberimu tiga batang cokelat.kau harusnya berterimakasih”
“kau hanya memberiku dua!” kathya menutup bukunya.
“satu cokelat tang lain telah kau lahap pagi tadi, sebelum kau ke UKS. Ingat?”
Kathya terdiam sejenak. Bodoh! Kenapa saat itu dia tidak bertanya terlebih dahulu pada dita, dari mana cokelat itu berasal.
“ooh.. itu darimu?” jawabnya kaku.
Freda mengangguk pasti. “lalu apa jawabanmu?” Freda kembali menuntut.
“jawaban apa?”
“suratku” dengan cepat Freda mnyahut.
Tiba-tiba saja Freda mengambil setangkai mawar merah. Kathya langsung berdiri panik.
“m..au kau apakan mawar itu?!” ucapnya terkejut sambil melangkah mundur. Freda tertawa geli, dan mendekati kathya. Cewek itu semakin panik.
“ja..jangan mendekat! Kumohon jangan mendekat Freda!” teriaknya, menarik perhatian seisi kelas.  Freda semakin tersenyum jahil. Akhirnya Freda berhenti, tepat setelah ia berada didepan kelas. Dihadapan Freda berdiri kathya yang berigsut takut.
“hooii!! Pengumuman!” Freda berteriak dengan lantang.
Semua mata terpusat pada Freda yang menggenggam mawar, dan kathya dengan wajahnya yang panik.
“merepotkan sekali jika mencintai cewek yang takut bunga” guraunya. Kathya mendesis. Ia tak tahu apa yang akan dilakukan Freda.
“bunga ini bukan untuk menakutimu,bunga ini akan mewakilkan jawabanmu terhadap suratku” serunya percaya diri.
“kau tak bisa seenaknya mengambil alih hakku!” protes kathya
“ciyee!!” jawab teman sekelas serempak.
 “baiklah, kita hitung kelopak bunga ini. Kelopak bunga terakhir akan menentukan pilihan.” Jelasnya sedikit serius.
Kathya semakin bingung dibuatnya. Freda mulai menarik satu persatu kelopak bunga.
“ya…”
“tidak..”
“ya…”
“tidak..”
Ucap Freda mewakilkan tiap kelopak bunga. Hingga kalopak bunga tersisa tiga.
“ya..”
“tidak..”
“yaa!!” serunya semangat menarik kelopak bunga terakhir. Ini sebuah kesialan bagi kathya.
“kelopak bunga terakhir berkata ya! Yang berarti setuju. Jadi kau harus menerima cintaku kathya!”
“hhuuuhh..” jawab teman-teman serempak.
“kau tak bisa mengambil keputusan secara sepihak!” protes kathya.
Freda mendekati kathya dengan wajahnya yang pucat. Keringat dingin terlihat jelas dipelipisnya.
“haah, susah sekali membujuk anak kecil. Sayang cokelatku sudah habis” gurau Freda.
“maafkan aku ya, tadi pagi telah membuatmu sakit. Itu adalah alasan agar aku dapat memberi cokelat untuk mu” ucapnya lembut. Sambil mengacak rambut kathya.
“hey! Kau merusak poniku!” kathya menyingkirkan tangan Freda. Cowok itu tersenyum penuh arti.
“kau sungguh menggemaskan” ia mencubit pipi kathya. Pipinya kemudian bersemu merah.
Freda menatap lurus kearah cewek didepannya. Mata mereka untuk sesaat saling beradu.
“kathya, lalu apa jawabanmu?” Freda berkata tulus.
“kurasa bunga mawar itu sudah cukup mewakilkan jawabanku”

                                                                        The end.


Komentar

Postingan Populer