Untuk bapakku, tersayang.
22 November 2025.
Aku tidak menyangka hari ini menjadi hari yang paling menyakitkan bagiku, bagi kami.
Pagi itu, bapakku meminta kami (anak-anaknya) untuk segera pulang, menemani bapak.
Selama beberapa minggu kesehatan bapak memang tidak kunjung membaik, meski sempat dirawat, meski dirumah telah berupaya sedemikian ruma mneyediakan selang oksigen dan memanggil perawat untuk cek kondisi bapak.
Mungkin bapak telah menyadari lebih dulu bahwa waktunya tidak akan lama lagi, bahkan hitungan jam, bahwa dia mungkin esok hari tidak lagi melihat matahari terbit, dengan jasadnya.
Aku menangis, pagi itu aku menangis takut. Aku tersergap oleh kemelut pikiran yang tidak bisa aku bayangkan. Aku menangis mengenang bahwa kemarin, baru saja aku berfikir bahwa bapak mungkin akan sembuh, sehat kembali.
Ya Allah, rasanya seperti tertimpa sesuatu yang membuat dadaku sesak.
Aku segera menghubungi adikku. Kami janjian dan pulang bersama sesegera mungkin. Diperjalanan, hening. Hanya pikiran-pikiran tidak tenang yang terus menggangu perjalanan kami. Kami khawatir, takut, tidak mau menghadapi hal buruk yang akan terjadi.
Setelah sampai, aku melihat rumahku ramai. Aku melihat bapak terduduk, syukurlah.. aku langsung salimi tangan bapak yang hangat (karena demam), aku melihat raut wajahnya yang terlihat lelah, sangat lelah.
Aku terus memperhatikan bapak yang tampak gusar dan was-was, tidak bisa istirahat. Rasanya berbaring salah, duduk juga tidak nyaman. Bapak tidak lagi bisa istirahat, bahkan untuk tertidur sejenak melepas lelah. Aku menyakiskan betapa bapak teramat capek, dengan kondisi tubuhnya yang sudah lemah.
Ya Allah.. aku takut.
Aku menggenggam angan bapak, yang begitu hangat. Sempat kupotret, mungkin aku juga menyadari (dan takut) ini akan jadi momen terakhir. Aku memotret tanganku menggengan bapak, berharap bapak segera sembuh. Setelah itu, aku suapi bapak dengan agar-agar kesukaan bapak, aku menyuapinya pelan-pelan, memotong jadi potongan kecil yang mudah ditelan, aku kasihan dengan bapak.. Makan pun terlihat susah payah..
Tak berselang lama, kakak ku (dari Malang) tiba, dengan mata yang juga sembab. Perjalanan dia juga pasti berat dengan kemelut pikiran yang takut. Kami saat itu telah kumpul semua, kecuali adik bungsu yang sedang mondok di Cirebon. Kami menemani bapak seharian, memijiti bapak, menyuapi bapak, mengobrol dengan bapak, menyemangati bapak..
Tapi yang bapak lakukan lagi lagi adalah meminta maaf. Meminta maaf pada siapapun (saudara) yang datang. Meminta maaf pada adiknya, meminta maaf pada kakaknya, meminta maaf pada keponakan-sepupu dan saudara yang datang menengok bapak hari itu. Ya Allah.. rasanya ini seperti tanda perpisahan yang nyata.
Rumahku lenggang sejenak, para saudara sempat kembali pulang kerumah mereka, hanya ada kami, terus menemani disebelah bapak.
Aku sempat sejenak tertidur, semalam tidurku kurang, kepalaku sempat kliyengan dan sempat meminum vitamin. Ketika bangun, kenapa rumahku kembali ramai?
Aku ingat sekali itu menjelang magrib, atau mungkin sudah. Aku ingat sekali saudara-saudaraku kembali kumpul, seakan hal genting akan segera terjadi.
Langsung kutengok bapak, dia berbaring sangat lemah, dia berbaring tak berdaya..
Aku duduk di sebelah bapak, kupegangi tangan dan kakinya, dingin.
Kuku-kukunya kelihatan hampir biru.
Kuolesi dengan minyak hangat. kupijiti tangan dan kakinya. Aku memiliki alat saturasi dan segera aku cek kembali tangan bapak, tidak terdeteksi, tidak muncul angka-angka. Padahal tadi siang, alat itu masih menunjukkan angka 98, yang artinya masih normal. Aku segera mengecek apakah alat ini rusak? aku cek ke tangan-tangan saudaraku, normal, semua angka terlihat. Tapi tidak dengan tangan bapak. Aku baru menyadari bahwa oksigen-oksigen tidak lagi menyebar rata, jantung bapak sudah tidak bisa lagi bertahan. Ya Allah pak..
Aku semakin takut, aku marah, aku tidak mau.
Aku melihat banyak saudaraku mengerumuni, mengaji dengan suara yang keras. Aku kesal, aku bilang pada mereka jangan mengerumuni bapak terlalu dekat, jangan mengaji terlalu keras, bapak butuh istirahat, bapak butuh udara, tolong jangan menyesaki bapak.
Rasanya waktu lambat sekali berlalu, orang-orang semakin berkerumun dengan suara orang-orang yang mengaji.. rasanya seperti semakin dekat waktu berpulang. Tapi kami semua menyangkal, kami masih berharap, sisa-sisa harapan semoga bapak bisa pulih lagi.
Pukul 19.00, Bapak sudah sangat payah sekali. sekujur kaki dan tangannya semakin membiru, tapi badannya begitu panas, jantung bapak telah begitu keras berusaha tetap memompa. Aku memegangi perut bapak, aku pijit seperti biasa, aku memegangi tangan bapak, berharap kehangatan tubuhku bisa mengganti hangat tangan bapak yang hilang. Aku selalu bilang ke bapak untuk semangat, meski bapak selalu menimpali sudah nggak kuat, tubuhnya sudah berjuang sedemikian rupa..
pukul 20.00 lebih, kondisi bapak tampak makin kritis, orang-orang semakin ramai. Beberapa saudara sudah menangis, meminta kita semua untuk ikhlas. Tapi mana ada orang yang ikhlas ketika akan ditinggalkan? tidak bisa. Aku pun tidak, tidak akan pernah siap.
Adik laki-laki ku, yang semenjak pagi enggan keluar, diminta segera keluar oleh kami. Dia langsug terduduk di ujung kaki bapak, menggengam tangan bapak yang sudah hampir dingin. Tidak bisa menahan tangis, air mata seakan luruh tidak bisa berhenti. Menangisi bapak, tanpa sanggup melihat wajah bapak.
Aku ada disebelah bapak, diujung kepala bapak yang terbaring, aku kipasi bapak pakai kipas kardus sembarang, aku tanyakan bapak yg kegerahan, aku terus mengipasi bapak, takut kalau bapak sesak karena kini semua orang mengelilinginya.
20.30 lewat, aku melihat suasana sekelilingku yang luarbiasa sedih tak terbendung, wajah-wajah mereka kalut, sedih. Aku melihat bapak semakin tak berdaya, bapak yang manggil semua anak-anaknya, bapak yang kini lengannya diciumi oleh mama, mama yang ada disebelahku, dengan mata yang juga basah, tak berhenti menciumi bapak, menenangkan hati bapak.
Bapak terus memanggil mama, memastikan mama selalu ada disebelah bapak. Aku menyakiskan pemandangan ini dengan hati yang pilu, sakit sekali ketika aku menyadari bahwa waktu kami sudah tidak lama lagi.
Pukul 09.00. Saudara ku (laki-laki) dan kakak ipar ku sudah berada disebelah bapak, aku tetap mengipasi bapak dengan sepotong kardus di tanganku, mereka membimbing bapak, membisikkan asma Allah, aku lihat bapak sudah semakin lemah. Aku ingat bapak bilang bahwa pandanganya gelap, semakin gelap.. ya Allah.. aku nggak kuasa lihat wajah bapak. Aku terus mengipasi bapak agar bapak tidak sesak, aku melihat wajah kakak-adikkku yang semakin menangis kencang, kita tidak kuasa, kita tidak sanggup menghantarkan bapak yang kini akan dijemput pulang..
09.05, selang oksigen bapak dilepas, ini adalah detik bapak akan meninggalkan kami. Aku hampir tidak terima selang itu dilepas, bapak masih bernafas. Aku terus memohon dalam hati, tolong jangan ambil bapak malam ini.. tolong kami. Aku memohon agar selang terus dipasangan ke bapak, aku memohon dengan air mataku yang basah, tapi saudaraku menangis, bilang bahwa bapak sudah nggak ada, bapak telah pergi, bapak telah pulang.
Aku menangis, aku diam, hatiku rasanya sakit sekali.
Kakak pertamaku, seketika berteriak histeris, dia tak kuasa melihat bapak yang kini telah dijemput oleh ajalnya, kakakku berteriak sakit, memohon agar bapak tidak pergi, memohon agar bapak tetap bersama kami, memohon pada semua orang, pada adik-adiknya agar bapak tidak pergi, bapak jangan pergi.
Aku melihat adik laki-lakiku menangis tak berhenti, aku melihat adik perempuanku menangis meratapi wajah bapak, aku melihat kakak-kakakku menangis, aku menyaksikan mamahku, dengan penuh ketegaran menangis dalam diam.
Kami mengantarkan bapak sampai bapak dijemput pulang.
Sungguh, ini adalah perpisahan yang sempurna. Kami semua mengiringi bapak untuk kembali, kami menemani bapak di detik-menit-jam terakhirnya hari ini. Bapak meninggakan kami dengan tenang, wajahnya tenang dan tampak tersenyum.
Aku, melihat jam, waktu kematian bapak pukuk 9.07 malam. Aku memberitahu saudara-saudaraku, mengabari mereka.
Aku mengusap kepala bapak yang masih terasa hangat, aku menyakiskan tubuh bapak yang kini sudah tidak lagi bernyawa. Aku menyaksikan jasad bapak dipindahkan ke lantai dengan hamparan karpet yang entah sejak kapan ada. Aku memandangi wajah bapak. Aku diam, aku disebelah mama, aku menggengam tangan mama, aku menguatkan mama.
Aku tetap diam mematung, melihat bapak yang kini semakin kaku. Aku tidak menangis tersedu, tapi sesekali mataku basah. Aku diam, terus diam, mempertanyakan apa yang baru saja terjadi. Mempertanyakan kenapa, bagaimana, mengapa. Mempertanyakan semua hal. Aku tidak bisa menangis.
Sepanjang malam itu waktu rasanya sangat lambat sekali, sangat lambat. Aku terus ada disebelah mamaph, bilang bahwa mamah jangan menangis terlalu kencang, kasihan bapak. Aku menyaksikan orang-orang berkerumun mengaji, aku menyaksikan orang-orang berusaha untuk mempersiapkan segala hal nya. Aku hanya diam, disebelah mamah. Melihat bapak yang kini wajahnya telah pucat. Ya Allah.. rasanya aku tak kuasa menyaksikan ini, rasanya aku belum bisa menerima kenyataan yang baru saja terjadi.
Sepanjang malam itu beberapa orang silih berganti mengaji, banyak orang tampak dengan mata yang sembab, merasakan kesedihan kami yang begitu dalam.
Hampir pukul 3, aku tidur disebelah bapak, dengan mamah yang juga ada disebelahku. Kami sama-sama mencoba untuk terpejam, tapi mata lagi-lagi basah, seperti kaset yang terus menerus menayangkan potongan film bapak ketika kami terpejam, segala kenangan dengan bapak terputar semua, aku tidak bisa tidur. mataku enggan tidur.
Aku teringat beberapa malam yang lalu, aku juga tidur ditengah mamah dan bapak yang memakai selang oksigen, sempat ku potret. Namun kini, begitu sakit ketika menyadari bahwa, berbaring bersama bapak saat itu, adalah untuk yang terakhir kalinya, benar-benar terkhir. Tidak bisa dan mustahil akan kembali terulang. Ini adalah malam terakhir kami bersama jasad bapak, malam terakhir kami memandangi wajah bapak. Ya Allah.. sakit sekali.
Menjelang subuh, aku sempat tertidur sesaat, aku pindah tidur di kamar. Namun kembali terbangun, adik-ponakan ku telah sampai dari pondok. Melihat dia yang tidak kami kabari, hingga sampai kerumah, membuat kami kasihan pada adik bungsu kami. Lihatlah dia hanya bisa diam dan menangis, memandangi bapak yang kini tidak lagi hangat. Hati kami sakit.. ya Allah pak, anak bungsumu sudah pulang, belum sempat pamitan dengan bapak..
Ketika azan subuh berkumandang, perlahan rumah kami ramai sampai pagi, semua orang datang, menangis, datang, menangis. Memeluk kami yang ditinggalkan, memandang kasihan.
Di saat ini akhirnya aku menangis, terus menerus, tidak bisa kuhentikan. Aku menangis sakit. Aku terus menangis dengan pelukan teman-temanku yang pagi itu datang. Aku tidak kuat.. di pelukan mereka aku menangis sejadi-jadinya. ya Allah aku nggak sanggup..
Aku menyaksikan semua proses untuk membersihkan jasad bapak sebelum dikebumikan. Aku, dengan air mata yang sepertinya tidak bisa berhenti, melihat bapak yang akan dimandikan, sempat memandikan bapak dengan satu gayung air berisi penuh bunga.. aku menangis sakit. Menyakiskan bapak yang kini sedang dikafani, hatiku rasanya sakit sekali.
Bapak, kini wajak bapak sudah genap tertutup kain putih. Kami tidak lagi bisa melihat bapak.
Aku mengiringi sholat jenazah bapak, aku mengiringi bapak yang dibawa dengan ambulans ke pemakaman. Aku menemenai bapak, sampai kami menaburi gundukan tanah yang kini menjadi rumah bapak.
Pagi itu, rasanya waktu terasa berkali-kali lebih lama, sangat lama.
Pak.. bapak telah sempurna menjadi bapak.
kami semua akan baik-baik saja pak. Kami akan rukun seperti pesan terakhir bapak.
Meski kami akan rindu dengan bapak, setiap waktu, setiap hari..
Maafkan kami pak.. maafkan.


Komentar
Posting Komentar